UNIVERSITAS TERBUKA

MAKING HIGHER EDUCATION OPEN TO ALL

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, May 18, 2019

Diskusi 7 Struktur dan fungsi ekosistem

Diskusi 7
Rantai Makanan


Materi Inisiasi 7




Jika saya mengajak siswa –siswi ke luar kelas untuk mempelajari rantai makanan yang ada di sekitar sekolah, saya akan mengajaknya ke kolam yang ada disamping sekolah. Kebetulan sekolahnya punya cukup lahan untuk membuat kolam lele. Mengapa saya mengambil contoh rantai makanan dikolam ? Walaupun sederhana dan termasuk ekosistem buatan tetapi dikolam tersebut  lengkap dengan makhluk hidup yang menjadi komponen dalam rantai makanan. Jadi siswa dan siswi dapat melihat secara langsung. 
Sebelumnya kita bahas terlebih dahulu apa itu rantai makanan dan komponen apa saja dalam rantai makanan.

Rantai Makanan

Rantai Makanan adalah sebuah proses makan dimakan antar makhluk hidup yang mana di dalamnya ada yang berperan sebagai produsen, konsumen, dan dekomposer. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup masing – masing makhluk hidup tersebut.

KOMPONEN DALAM RANTAI MAKANAN

Dalam piramida rantai makanan anda akan menemukan kata produsen, konsumen dan dekomposer.
1. Produsen adalah makhluk hidup yang dapat memproduksi makanan sendiri contohnya adalah tumbuhan. Tumbuhan dapat menghasilkan makanan sendiri yang dapat digunakan sebagai sumber energi bagi konsumen.

2. Konsumen adalah makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanan sendiri. Oleh karena itu, untuk mendapatkan energi konsumen bergantung pada produsen atau makhluk lainnya.Konsumen terbagi menjadi tiga bagian, yaitu konsumen primer, konsumen sekunder dan konsumen tersier.
  • Konsumen primer adalah konsumen pertama yang mana ia mendapat energi langsung dari produsen. Contohnya adalah makhluk hidup yang termasuk herbivora seperti sapi, kerbau, kelinci dan lain – lain.
  • Konsumen sekunder adalah konsumen kedua yang mendapatkan sumber energi atau makanan dari konsumen pertama. Contohnya adalah hewan pemakan daging atau sering disebut sebagai karnivora. Contohnya adalah kucing, anjing, ular dan lain – lain.
  • Konsumen tersier adalah konsumen yang mendapatkan sumber energi dengan memakan konsumen kedua. Contohnya adalah burung elang, alap – alap, harimau, singa dan lain – lain.
3. Dekomposer adalah organisme yang berperan menguraikan zat organik menjadi zat anorganik.        Dekomposer menguraikan bangkai dan tumbuhan yang sudah mati lalu nutrisi yang terdapat di dalamnya akan digunakan oleh produsen atau tumbuhan sebagai sumber nutrisi.

CONTOH RANTAI MAKANAN DI KOLAM

Rantai Makanan di Kolam

Komponen rantai makanan di kolam tidak sebanyak dengan rantai makanan yang terdapat di dalam ekosistem alami. Hal ini dikarenakan pada ekosistem kolam organisme yang ada di dalamnya ditentukan oleh pemiliknya. Hal inilah yang menjadikan kolam termasuk dalam ekosistem buatan.
Kolam merupakan salah satu ekosistem buatan yang sengaja dibuat oleh manusia dan didesain menyerupai habitat aslinya. Pada umumnya kolam dibuat untuk dijadikan sebagai lahan untuk budidaya ikan. Pada umumnya komponen organisme yang ada di kolam terdiri atas komponen biotik dan abiotik.
Meskipun kolam termasuk dalam ekosistem buatan namun di dalamnya terdapat interaksi antar organisme yang ada di dalamnya. Interaksi tersebut dapat berupa makan memakan antar organisme. Di dalamnya terdapat produsen yang berupa fitoplankton, alga atau organisme lainnya yang akan menjadi sumber energi bagi ikan. Di dalam kolam juga terjadi aliran energi dalam rantai makanan.

Contoh rantai makanan di kolam antara lain adalah sebagai berikut:

Cahaya matahari  → algae → ikan kecil → ikan lele → manusia → pengurai

\
1. Cahaya matahari 

Cahaya matahari termasuk komponen abiotik. Cahaya matahari mempunyai peranan yang amat penting bagi kehidupan organisme, ada 2 alasannya yaitu : 
  1. Cahaya matahari sangat diperlukan oleh tumbuhan hijau untuk fotosintesis. Dengan bantuan cahaya matahari tumbuhan hijau dapat mengubah karbondioksida (CO2) dan air (H2O) menjadi Glukosa (C6H12O6)
  2. Cahaya matahari di gunakan sebagai perangsang (stimulus) berbagai aktifitas hewan dan tumbuhan. 

2. Algae 

Dalam ekosistem perairan yang berperan sebagai produsen adalah fitoplanton yang terdiri dari berbagai jenis algae. Produsen sangat tergantung pada komponen abiotik misalnya mineral untuk kelangsungan hidupnya, sehingga lapisan tanah atau air yang kaya akan mineral sangat menunjang kelangsungan hidup produsen 

3. Ikan Kecil 

Ikan kecil berperan sebagai konsumen primer karena ia mendapat energy langsung dari produsen .

4. Ikan Lele

Ikan lele berperan sebagai konsumen sekunder karena ia mendapatkan energy atau makanan dari konsumen primer.

5. Manusia

Manusia disini berperan sebagai konsumen tersier karena nutrient dan energy di hasilkan dari konsumen sekunder . Manusia juga sebagai omnivora yaitu konsumen yang kebutuhan nutrient dan energinya diambil dari produsen atau organisme lain sehingga omnivora juga disebut pemakan segalanya 

6. Pengurai
Terdiri atas bakteri dan jamur. Fungsi pengurai adalah merombak senyawa kompleks yang terdapat pada hewan atau tumbuhan yang sudah mati menjadi senyawa sederhana berupa nutrient yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan. 

No. Materi Type File Link Download
1.
Inisiasi 7.1
Pdf
2.
Diskusi 7
Pdf
3.
Tugas 3PdfLink 3
Display Tugas 3


Friday, May 17, 2019

Diskusi 7 Hukum-hukum Dasar Kimia

Diskusi 7
Hukum-hukum Dasar Kimia



Materi Inisiasi 7.1


Pertanyaan :

Coba anda kemukakan
Empat kegiatan yang dilakukan untuk memahami hukum dasar kimia !
Lengkapi dengan contoh untuk setiap kegiatan nya

Jawaban :

REAKSI-REAKSI KIMIA 

Kita dapat mengidentifikasi pereaksi dan hasil reaksi secara eksperimen, ataupun berdasarkan reaksi serupa yang sebelumnya sudah dilakukan dan disebabkan kesamaan sifat dari zat-zat tersebut. Sebagai contoh, kita mengetahui bahwa natrium, Na, bereaksi dengan air (H2O), membentuk NaOH dan H2 maka kita dapat menduga kejadian yang sama jika kalium (K) dimasukkan ke dalam air. Hal ini disebabkan keduanya, Na dan K adalah golongan alkali.

Secara umum reaktivitas kimia mengikuti pola-pola reaksi berikut:

1. Reaksi Pembakaran

Umumnya reaksi yang menghasilkan nyala disebut reaksi pembakaran. Reaksi ini selalu melibatkan O2, yang biasanya dari udara, sebagai reaktan. Pada bagian ini kita akan membahas secara khusus reaksi pembakaran senyawa hidrokarbon
Jika hidrokarbon dibakar sempurna (dengan O2 yang mencukupi), hidrokarbon tersebut bereaksi dengan O2 membentuk CO2 dan H2O. Jumlah molekul O2 yang dibutuhkan dalam reaksi dan jumlah molekul CO2 dan H2O yang terbentuk tergantung pada komposisi hidrokarbon.

Sebagai contoh :
Pembakaran propana (C3H8), suatu gas yang digunakan untuk memasak dan pemanas rumah, menghasilkan nyala yang berwarna biru, dituliskan dengan persamaan berikut:


Pembakaran senyawa karbon lain yang mengandung oksigen selain karbon dan hidrogen, sebagai contoh methanol (CH3OH), dan glukosa (C6H12O6), juga menghasilkan CO2 dan H2O. 

2. Reaksi Penggabungan

Di dalam reaksi penggabungan, dua atau lebih zat bereaksi untuk membentuk satu zat hasil, khususnya bergabungnya unsur-unsur yang berbeda membentuk senyawa.

Sebagai contoh :
Logam magnesium dibakar di udara dengan nyala yang menyilaukan menghasilkan magnesium oksida. Persamaan kimia untuk reaksi tersebut adalah: 

3. Reaksi Penguraian 

Pada reaksi penguraian, suatu zat mengalami perubahan membentuk dua atau lebih zat lain. Beberapa senyawa berubah komposisinya jika dipanaskan.
Sebagai contoh beberapa logam karbonat terurai membentuk logam oksida dan karbon dioksida jika dipanaskan.

Sebagai contoh : 
pemanasan batu kapur (CaCO3) dituliskan persamaan kimianya sebagai berikut :

Contoh yang lain adalah penguraian Natrium Azida, NaN3, yang digunakan dalam kantung udara pelindung pada mobil. NaN3 terurai secara cepat membentuk gas N2 yang menyebabkan kantung udara mengembang. Persamaan kimianya adalah sebagai berikut:

4. Reaksi Metatesis

Di dalam persamaan molekular untuk kebanyakan reaksi larutan dalam pelarut air, ion-ion positif (kation) dan ion-ion negatif (anion) berinteraksi untuk bertukar pasangan. Reaksi-reaksi ini sesuai dengan persamaan umum berikut: 

Contoh : 


Reaksi di atas dikenal sebagai reaksi metatesis. Reaksi netralisasi asam- basa yang melibatkan penggabungan ion hidroksida dari basa dan ion hidrogen dari asam membentuk H2O termasuk jenis reaksi ini.

Reaksi kimia yang melibatkan pertukaran ion di dalam larutan diantaranya adalah reaksi pengendapan dan reaksi pembentukan gas. 

a. Reaksi Pengendapan 

Reaksi metatesis yang menghasilkan produk dalam bentuk yang tidak larut dikenal sebagai reaksi pengendapan. Suatu endapan adalah padatan yang tidak larut yang dibentuk oleh suatu reaksi dalam larutan. 

Sebagai contoh :
Reaksi yang terjadi antara larutan Kalium Iodida (KI), dan larutan Timbal Nitrat, Jika kedua larutan tersebut dicampurkan, terbentuk endapan yang berwarna kuning, yaitu Timbal Iodida (PbI2), suatu garam yang kelarutannya dalam air sangat kecil. 

b. Reaksi Pembentukan gas 

Kadang-kadang hasil dari reaksi metatesis adalah gas yang memiliki kelarutan yang rendah dalam air. Sebagai contoh, hidrogen sulfide(H2S) suatu gas yang berbau, seperti telur busuk, terbentuk jika asam kuat, seperti HCl(aq) bereaksi dengan suatu Logam Sulfida, seperti Na2S. Persamaan Molekular:


HUKUM - HUKUM DASAR KIMIA 

1. Hukum kekekalan massa (hukum Lavoisier)

Dari hasil eksperimen yang dilakukan Lavoisier (1785), Lavoisier menyimpulkan bahwa massa zat-zat sebelum reaksi sama dengan massa zat-zat sesudah reaksi, artinya massa zat bersifat kekal.
Hukum Lavoisier menyatakan : dalam setiap reaksi sama dengan jumlah massa zat-zat sesudah reaksi_

Contoh :
Memanaskan 530 gram logam merkuri dalam sebuah wadah yang terhubung dengan udara di dalam silindernya dengan sebuah wadah tertutup.
Dan ternyata volume udara di dalam silinder berkurang sebanyak 1/5 bagian, sedangkan logam merkurinya berubah menjadi calx merkuri ( oksida merkuri ) dengan massa 572, 5 gram.
Atau terjadi kenaikan massa sebesar 42, 4 gram. Besaran kenaikan massa merkuri ini sebesar 42, 4 gram yakni sama dengan 1/5 bagian udara yang telah hilang yakni oksigen.
Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap



2. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)

Pada tahun 1807 Proust menemukan bahwa massa unsur-unsur yang membentuk suatu senyawa mempunyai perbandingan yang tetap.

Contoh :
Dalam senyawa H2O (air), perbandingan massa H dan O selalu tetap yaitu 2 : 16 atau 1 : 8. Dari manapun air diperoleh maka perbandingan massa H dan O dalam air tersebut tetap 1:8 Karena perbandingan massa unsur dalam tiap senyawa selalu tetap, maka kadar unsur dalam tiap senyawa juga selalu tetap_

3. Hukum Perbandingan Berganda / Hukum Kelipatan Perbandingan/ Hukum Dalton 

Bunyi Hukum Dalton : Jika 2 unsur membentuk 2 senyawa atau lebih, maka salah satu unsur yang sama mempunyai jumlah massa yang sama, sedangkan massa unsur yang kedua dalam senyawa- senyawa itu merupakan bilangan yang mudah dan bulat.

Contoh : 
Unsur S dan unsur O membentuk 2 macam senyawa yaitu SO2 dan SO3. 
Perbandingan massa S : O dalam senyawa SO2 adalah 16 : 32 atau 1 : 2
Sedangkan perbandingan massa S : O dalam SO3 adalah 16 : 48.
Untuk massa S pada SO2 dan SO3 adalah  sama yaitu 16,
perbandingan massa O pada SO2 dan SO3 adalah 32 : 48 atau 2 : 3 (bilangan yang mudah dan bulat)

4. Hukum Perbandingan Volume (Gay Lussac) 

Gay Lussac mengadakan eksperimen pada reaksi antara gas-gas ternyata perbandingan volume gas-gas yang bereaksi dan hasil reaksi sesuai dengan perbandingan jumlah molekulnya yang merupakan perbandingan sederhana. Berdasarkan hasil ekrperimennya, Gay Lussac mengemukakan hukum volume gas-gas yang bereaksi dan hasil reaksi berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana, apabila diukur pada suhu dan tekanan yang sama.

Contoh :
Pada reaksi gas N2 dan gas H2 menjadi gas NH3. Menurut reaksi : 

berdasarkan koefisien reaksinya dapat di jelaskan:
1 molekul gas N2 bereaksi dengan 3 molekul gas H2 menghasilkan 2 molekul gas NH3, secara singkat dituliskan :
1 molekul N2 ~3 molekul H2 ~ 2 molekul NH3 

Pada suhu dan tekanan yang sama (P,V ), berlaku :
1 volume N2 ~ 3 volume H2 ~ 2 volume NH3.

5. Hukum Avogadro 

Sejalan dengan eksperimen yang dilakukan oleh Guy Lussac, Avogadro mengemukakan hipotesanya yang menyatakan Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang mempunyai volume sama mengandung jumlah molekul yang sama pula.

Contoh :
Dalam bejana bervolume 5 liter diisi dengan gas N2O. Pada P dan T tertentu terdapat 1,2 x 1023 molekul gas N2O.
Jika pada P dan T yang sama, tabung lain yang volumenya 5 Iiter diisi dengan gas CH4, ternyata jumlah molekul gas CH4 pada tabung itu adalah 1,2 x 1023.


No. Materi Type File Link Download
1.
Inisiasi 7.1
Pdf
2.
Diskusi 7
Pdf
3.
Tugas 3PdfLink 3

Thursday, May 16, 2019

Diskusi 7 Bintang Dan Koordinat Bola Langit

Diskusi 7
Evolusi Bintang


Materi Inisiasi 7




Pada pertemuan ini mari kita diskusikan hal-hal berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan evolusi bintang?
2. Jelaskan proses evolusi bintang!
3. Menunjukkan apakah warna dan spektrum bintang? jelaskan jawaban anda

Jawaban :

1) Apa yang dimaksud dengan evolusi bintang?


Evolusi bintang adalah perubahan pelahan - lahan sejak suatu bintang terjadi sampai menjadi bintang yang stabil, kemudian memasuki deret utama dalam waktu yang lama, kemudian menjadi bintang raksasa, lalu mengalami keadaan degenerasi, seterusnya melontarkan sebagian massanya bagian luar dan membentuk massa kecil dengan kerapatan yang besar sampai menjadi bintang netron dan black hole, melalui tahapan-tahapannya yaitu : pembentukan bintang, Jejak evolusi pra deret utama, evolusi pada deret utama, evolusi dari deret utama ke raksasa merah, bintang katai putih.


2) Jelaskan Proses Evolusi Bintang !

PROSES EVOLUSI BINTANG 

A. Pembentukan Bintang

Bintang-bintang berasal dari kabut antar bintang yang disebut proto bintang. Ada beberapa mekanisme pembentukan bintang yaitu: 
  1. Tumbukan-tumbukan antara awan antar bintang dapat menyebabkan kenaikan kerapatan yang dapat mengarah pada kondensasi bintang. Tumbukan semacam itu bisa terjadi antara awan gas yang ditemui dalam lengan spiral galaksi. Pada lengan spiral ini dapat terdeteksi adanya bintang-bintang muda yang cukup cemerlang.
  2. Pada daerah perbatasan antara daerah-daerah H II dan daerah-daerah H l, para ahli memperkirakan adanya kumpulan kerapatan yang disebabkan oleh pemuaian gas panas dalam daerah H II. Gugus bintang muda NGC 2264 tampaknya telah terbentuk pada daerah itu. 
  3. Awan gelap terisolasi (globule) dengan massa kira-kira 20 sampai ratusan kali massa matahari kemungkinan runtuh menjadi bintang- bintang atau gugus-gugus bintang.
  4. Ledakan-ledakan supernova melepaskan energi yang sangat besar, berupa radiasi elektromagnetik dan dalam bentuk angin bintang. Energi yang terlepas ini berperanan sangat penting dalam proses pembentukan bintang.
  5. Awan-awan molekuler yang dingin juga merupakan tempat terbentuknya bintang-bintang. Molekul-molekul dalam awan itu bertumbukan sesamanya, sehingga molekul-molekul tereksitasi ke berbagai keadaan getaran dan rotasi. Molekul-molekul tersebut secara berturut-turut berubah ke keadaan-keadaan dengan energi yang lebih rendah setelah memancarkan radiasi inframerah dan radiasi radio. Dalam proses itu, energi terlepas dari awan-awan tersebut sehingga terjadi pendinginan. Selama awan-awan itu mendingin, awan-awan harus berkontraksi menjadi lebih rapat dan membentuk protobintang.
Proses kondensasi awan antar bintang tidak hanya dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Tekanan dan turbulensi di dalam awan itu juga ikut berperan dalam proses kondensasi. Jika tekanan dan turbulensi lebih besar dari pada gaya gravitasi antar materi maka proses pengerutan tidak akan terjadi dan bola awan tersebut akan tercerai. James Jeans mengemukakan bahwa gaya gravitasi lebih dominan terhadap tekanan dan turbulensi dalam awan gas jika massa bola awan gas mempunyai massa lebih besar dibandingkan dengan massa kritis MJ. Massa kritis ini sering kali disebut massa Jeans. Jika massa bola awan gas adalah M, maka agar terjadi pengerutan gravitasi harus dipenuhi syarat:


Jika syarat tersebut dipenuhi maka dikatakan terjadi ketidakstabilan gravitasi, bola gas akan mengalami pengerutan. Dalam awan gas yang besar bisa terjadi penggumpalan-penggumpalan massa yang lebih kecil akibat ketidakstabilan gravitasi. Gumpalan-gumpalan ini bisa menjadi lebih kecil lagi asalkan syarat ketidakstabilan gravitasi dipenuhi. Peristiwa semacam ini disebut fragmentasi. Energi bintang muda berasal dari pengerutan gravitasi dan belum tergantung pada reaksi-reaksi nuklir. Separuh energi yang dibebaskan oleh pengerutan gravitasi terlepas sebagai radiasi yang memberikan sumbangan terhadap luminositas bintang tersebut. Separuh energi lainnya memanaskan bagian dalam bintang muda itu dan menaikkan tekanannya sehingga mampu menopang pertambahan berat lapisan-lapisan dalam bintang. Berat masing- masing lapisan berbanding terbalik dengan kuadrat jejari lapisan itu.

B. Jejak Evolusi Pra Deret Utama

Kita dapat mengikuti evolusi bintang secara teoritis berdasarkan jejaknya pada diagram HR. Kita dapat memperhitungkan tahap-tahap perubahan suatu bintang berdasarkan model bintang itu. Pada setiap tahap dapat diperoleh luminositas, jejari bintang, dan suhu permukaannya. Oleh karena itu, kita dapat mengetahui letak bintang dengan diagram itu.
Pada awal fase pengerutan, suatu bintang memindahkan energinya melalul arus-arus konveksi. Pada tahap-tahap berikutnya, arus-arus konveksi berhenti pada daerah pusat bintang, perpindahan energi terjadi secara radiasi.
Daerah pusat berada pada kesetimbangan radiasi dan ukurannya bertambah secara bertahap, sedang daerah arus konveksi semakin berkurang.
Dalam tahap evolusi ini, bintang atau embrio bintang masih mengerut secara perlahan dan energinya berasal dari pengerutan gravitasi.
Jejak bintang berbelok secara tajam dan bergerak ke kiri menuju deret utama (dalam diagram H-R).
Pelepasan energi gravitasi berlangsung terus dan memanaskan bagian dalam bintang, sehingga suhu pada bagian pusatnya menjadi cukup tinggi yang memungkinkan terjadinya reaksi nuklir.
Dalam waktu singkat sumber energi baru ini memberikan panas pada bagian dalam bintang dengan laju sama seperti energi yang dipancarkan. Oleh karena itu, tekanan dan suhu pada bagian pusat bintang dipertahankan, dan pengerutan gravitasi berhenti, bintang itu menjadi stabil dan berada pada deret utama.
Waktu evolusi dari kabut antar bintang sampai menjadi bintang deret utama tergantung pada massa bintang itu. Makin besar massa bintang semakin cepat bintang itu mencapai deret utama. 
Ketika bintang-bintang bermassa cukup besar (dibandingkan massa matahari) memasuki deret utama daerah-daerah konveksi sebelah luar telah hilang, tetapi terbentuk teras-teras konveksi yang baru pada bagian pusatnya. Bintang-bintang deret utama dengan massa mendekati massa matahari masih memiliki lapisan-lapisan konveksi di sebelah luar, tetapi pada bagian dalamnya berada dalam kesetimbangan radiatif. Bintang-bintang bermassa agak rendah masih berada dalam keseimbangan konvektif keseluruhannya dan mengikuti garis-garis Hayashi yang turun ke bawah sampai mencapai deret utama. Bintang-bintang bermassa sangat kecil tidak pernah mencapai suhu pusat yang cukup tinggi untuk menghasilkan reaksi inti. Bintang- bintang ini mengerut terus dalam waktu yang sangat lama, menjadi cukup mampat dan materinya teregenerasi, akhirnya mencapai keadaan katai putih.

C. Evolusi Pada Deret Utama

Ketika bintang-bintang mencapai deret utama, komposisi kimianya mula-mula adalah homogen. Pada saat ini bintang -bintang tersebut dikatakan berada pada deret utama berumur nol (ZAMS: zero age main sequence). Bintang-bintang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dalam deret utama. Hampir seluruh energi bintang pada deret utama berasal dari reaksi thermonuklir hidrogen menjadi helium. Karena hanya 0,7% hidrogen yang diubah menjadi energi maka bintang yang bersangkutan tidak mengalami perubahan massa yang berarti.
Namun demikian pada daerah pusat massa bintang terjadi reaksi nuklir, sehingga terjadi perubahan komposisi kimia (jumlah hidrogen berkurang dan jumlah helium bertambah). Akibatnya terjadi perubahan struktur bintang, termasuk luminositas dan ukurannya. Perhitungan menunjukkan bahwa suhu dan kerapatan pada pusat bintang bertambah selama pembentukan helium dari hidrogen. 
Akibatnya laju pembangkitan energi nuklir juga bertambah, luminositas bintang bertambah secara perlahan. Oleh karena itu, sebuah bintang tidak secara tepat berada pada ZAMS. Deret utama suatu gugus sebenarnya bertambah secara perlahan dalam diagram H-R selama umur gugus itu. Bintang-bintang yang paling pejal dan terang mengubah komposisi kimianya paling cepat, Oleh karena itu, deret utama naik paling cepat pada ujung bercahaya terang dan hampir tidak bertambah sama sekali pada ujung bercahaya lemah.
Jika hidrogen telah habis sama sekall pada bagian pusat bintang, maka terbentuklah teras yang hanya mengandung helium dan sedikit unsur- unsur berat yang mulai terbentuk.
Sumber energi dari pembakaran hidrogen sekarang telah habis, teras helium mulai mengerut secara gravitasi lagi.
Pengerutan gravitasi ini disertai pelepasan energi potensial, sedang sisa energi bintang yang berasal dari pembakaran hidrogen akan segera mengelilingi teras helium tersebut.
Schonberg dan Chandrasekar mengemukakan jika teras helium telah mencapai 10-20% dari massa bintang, maka gradien tekanan tidak mampu menahan berat lapisan luar bintang dan teras helium mengerut secara cepat, akhirnya bintang itu meninggalkan deret utama menuju tahap evolusi berikutnya.
Massa kritis teras helium tersebut dikatakan sebagai batas Schonberg-Chardrasekar. Makin besar massa suatu bintang makin singkat bintang itu berada pada deret utama. Sebagai contoh bintang dengan massa mendekati massa matahari berada pada deret utama mencapai 1010 tahun dan bintang dengan massa kira-kira 0,4 massa matahari berada pada deret utama sampai 2.1011 tahun.

D. Evolusi dari Deret Utama ke Raksasa Merah

Karena teras helium mengerut maka teras itu akan melepaskan energi potensial gravitasi. Energi ini terserap dalam selubung yang mengelilingi teras sehingga memaksa bagian luar bintang tersebut mengembang sangat besar dan bagian-bagian pusat kerapatannya sangat rendah. Pengembangan lapisan luar ini mengakibatkan pendinginan lapisan-lapisan itu, sehinggabintang menjadi merah.
Sementara itu sebagian energi potensial yang dilepaskan karena pengerutan teras helium akan memanaskan hidrogen yang menyelimutinya sehingga suhunya menjadi lebih tinggi. Dalam daerah - daerah panas ini perubahan hidrogen menjadi helium dipercepat sehingga luminositas bintang bertambah.
Setelah meninggalkan deret utama bintang- bintang bergerak ke bagian kanan atas diagram H-R, bintang-bintang itu menjadi raksasa merah (lihat Gambar dibawah ini ).
Gambar dibawah ini didasarkan pada perhitungan Ieko Iben, menggambarkan jejak-jejak evolusi pada diagram H-R dari deret utama ke raksasa merah untuk bintang-bintang dengan sejumlah massa tertentu dan dengan komposisi kimia mirip dengan matahari. Pita yang membentang dari kiri atas sampai kanan bawah menunjukkan deret utama berumur nol ZAMS. Bilangan - bilangan sepanjang setiap jejak evolusi menunjukkan waktu-waktu yang diperlukan Oleh bintang-bintang untuk mencapai lahap-tahap evolusi.


Jejak Evolusi Bintang dengan Berbagai Massa Mulai dari Deret Utama
Berumur nol yang Dihitung oleh Icko Iben


E. Bintang Katai Putih

Cepat atau lambat sebuah bintang kehabisan persediaan energi nuklirnya. Bintang itu selanjutnya hanya mengerut dan melepaskan kelebihan energi potensialnya. Akhirnya bintang yang mengerut terus itu akan mencapai kerapatan maha besar dan mempunyai ukuran sangat kecil yang disebut dengan bintang katai putih.
Dalam bintang katai putih electron - elektron terdegenerasi sempurna pada seluruh bagian bintang. Diyakini bahwa bintang katai putih merupakan salah satu tahap akhir dari evolusi bintang.
Bintang Sirius B adalah contoh bintang katai putih. Sumber energi bintang katai putih adalah energi termal yaitu energi kinetik inti - inti atom tak terdegenerasi yang berkelakuan seperti zarah-zarah gas biasa dan terhambur di antara elektron-elektron terdegenerasi.
Bintang katai putih memiliki bagian dalam yang sangat panas dan tekanannya sangat tinggi sehingga hidrogen yang tersisa segera mengalami reaksi fusi dan membentuk helium. Akibatnya, bintang katai putih tidak mengandung hidrogen. Komposisi bagian dalam katai putih kemungkinan besar adalah karbon dan oksigen sebagai hasil pembakaran helium.
Bintang katai putih secara perlahan-lahan mengalami pendinginan. Mula-mula laju pendinginan ini sangat cepat, setelah suhu bagian dalam bintang itu turun akhirnya bintang yang bersangkutan tidak bersinar sama sekali menjadi bintang katai hitam.

3) Menunjukkan apakah warna dan spektrum bintang? jelasakan jawaban anda

WARNA DAN SPEKTRUM BINTANG 

Keadaan fisis bintang dapat ditelaah dari spektrum atau kuat cahayanya.
Pengukuran kuat cahaya bintang dipelajari dalam fotometri.
Terang bintang dinyatakan dalam magnitudo semu (m), sedangkan
Kuat cahaya bintang sebenarnya dinyatakan dalam magnitudo mutlak (M), yakni magnitudo bintang diamati dari jarak 10 parsec.
Sebelum adanya perkembangan fotografi, magnitudo bintang ditentukan dengan mata. Kepekaan mata untuk daerah panjang gelombang yang berbeda adalah tidak sama.
Mata memiliki kepekaan terutama pada daerah kuning-hijau pada panjang gelombang 5.500 A0. Oleh karena itu, magnitudo yang diukur di daerah tersebut dikenal dengan magnitudo visual atau mvis.
Magnitudo bintang dapat ditentukan dengan fotografi. Emulsi fotografi memiliki kepekaan di daerah biru - ungu pada panjang gelombang 4.500 A0. Magnitudo yang diukur pada panjang gelombang tersebut disebut magnitudo fotografi atau mfot.
Makin terang suatu bintang maka makin kecil magnitudonya. 
Selisih dari kedua magnitudo itu, yakni magnitudo fotografi dikurangi magnitudo visual disebut indeks warna bintang tersebut.
Makin panas atau makin biru suatu bintang, makin kecil indeks warnanya. Karena adanya selisih tersebut maka diperlukan pembakuan titik nol kedua magnitudo tersebut. Secara matematis magnitudo visual dan magnitudo fotografi dapat dinyatakan sebagai berikut:


Kedua tetapan tersebut dapat ditentukan sedemikian rupa sehingga mvis = mfot Pada mulanya pelat fotografi hanya peka untuk cahaya biru-ungu. Tetapi dengan berkembangnya fotografi orang dapat membuat pelat yang peka untuk daerah panjang gelombang lain seperti daerah kuning, merah, dan inframerah. Suatu pelat fotografi yang peka cahaya kuning-hijau bila dikombinasikan dengan filter kuning akan menghasilkan kepekaan yang sesuai dengan mata. Dengan menggunakan berbagai kombinasi pelat fotografi (atau detektor lain) dan filter dapat diperoleh berbagai sistem magnitudo.Pada tahun 1951, .H.L. Johnson dan W. W. Morgan mengajukan Sistem magnitudo yang disebut sistem UBV, yakni : U = magnitudo semu dalam daerah ultra ungu. B = magnitudo semu dalam daerah biru. V = magnitudo semu dalam daerah kuning atau visual.Walaupun dituliskan dalam huruf kapital U, B, dan V adalah magnitudo semu (mU,mB dan mv). Dalam sistem Johnson-Morgan indeks warna adalah U-B dan B-V. Selain sistem UBV juga dikenal sistem magnitudo lain seperti terangkum pada table di bawah ini :


KELAS SPEKTRUM BINTANG

Klasififikasi bintang berdasarkan kelas spektrumnya didasarkan pada temperatur bintang. Perbedaan temperatur menyebabkan perbedaan tingkat energi pada atom-atom dalam bintang yang menyebabkan perbedaan tingkat ionisasi, sehingga terjadi perbedaan spektrum yang dipancarkan. Adapun warna bintang akan makin biru bila suhu makin panas akibat panjang gelombang maksimum yang dipancarkan berada pada panjang gelombang pendek (biru), begitu pula makin dingin suatu bintang akan makin merah warnanya (ingat Hukum Wien).

Kelas spektrum itu dibagi menjadi kelas O, B, A, F, G, K dan M. Tiap kelas dapat pula dibagi menjadi subkelas 0 sampai 9, misalnya B0, B1,B2,....., B9.


1. Kelas Spektrum O

Warna : biru
Temperatur : > 30 000 K
Ciri utama : Garis adsorbsi yang tampak sangat sedikit. Garis helium terionisasi. Garis nitrogen terionisasi dua kali, garis silikon terionisasi tiga kali dan garis atom lain yang terionisasi beberapa kali tampak, tapi lemah. Garis hidrogen juga tampak, tapi lemah. Contoh : Bintang 10 Lacerta dan Alnitak.



2. Kelas Spektrum B

Warna : biru
Temperatur : 11 000 – 30 000 K

Ciri utama : Garis helium netral, garis silikon terionisasi satu kali dan dua kali serta garis oksigen terionisasi terlihat. Garis hidrogen lebih jelas daripada kelas O. Contoh : Rigel dan Spica.



3. Kelas Spektrum A

Warna : putih kebiruan
Temperatur : 7 500 – 11 000 K
Ciriu tama : Garis hidrogen tampak sangat kuat. Garis magnesium, silikon, besi, dan kalsium terionisasi satu kali mulai tampak. Garis logam netral tampak lemah. Contoh : Sirius dan Vega.


4. Kelas Spektrum F

Warna : putih
Temperatur : 6 000 – 7 500 K
Ciri utama : Garis hidrogen tampak lebih lemah daripada kelas A, tapi masih jelas. Garis-garis kalsium, besi dan kromium terionisasi satu kali dan juga garis besi dan kromium netral serta garis-garis logam lainnya mulai terlihat. Contoh : Canopus dan Procyon.


5. Kelas Spektrum G

Warna : putih kekuningan
Temperatur : 5 000 – 6 000 K
Ciri utama : Garis hidrogen lebih lemah daripada kelas F. Garis kalsium terionisasi terlihat. Garis-garis logam terionisasi dan logam netral tampak. Pita molekulC H (G-Band) tampak sangat kuat.
Contoh : Matahari dan Capella.


6. Kelas Spektrum K

Warna : jingga
Temperatur : 3 500 – 5 000 K
Ciri utama : Garis logam netral tampak mendominasi. Garis hydrogen lemah sekali. Pita molekul Titanium Oksida (TiO) mulai tampak. Contoh : Arcturus dan Aldebaran.


7. Kelas Spektrum M

Warna : merah
Temperatur : 2 500 – 3 000 K
Ciri utama : Pita molekul TiO terlihat sangat mendominasi, garis logamnetral juga tampak dengan jelas. Contoh : Betelgeuse dan Antares.

Klasifikasi Bintang

Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F,G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisikimianya! Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai system klasifikasi Harvard untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat “Oh Be A Fine Girl Kiss Me “ Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang - bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.

Kelas
Warna
Suhu Permukaan °C
Contoh
O
Biru
> 25.000
Spica
B
Putih - Biru
11.000 – 25.000
Rigel
A
Putih
7.500 – 11.000
Sirius
F
Putih Kuning
6.000 – 7.500
Procyon A
G
Kuning
5.000 – 6.000
Matarhari
K
Jingga
3.500 – 5.000
Arcturus
M
Merah
<3.500
Betelguese

Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C Keenan, dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas – kelas  berikut :
  1. 0Maha maha raksasa
  2. I Maharaksasa
  3. II Raksasa – raksasa terang
  4. III Raksasa
  5. IV Sub - raksasa
  6. V Deret utama (katai)
  7. VI sub – katai 
  8. VII katai putih
Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua system pengklasifikasian di atas. Matahari kita misalnya, adalah sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan berukuran sedang. Diagram Hertzsprung - Russell adalah diagram hubungan antara luminositas dan kelas spektrum –suhu permukaan. Bintang. Diagram ini adalah diagram paling penting bagi para astronom dalam usaha mempelajari evolusi bintang.

No. Materi Type File Link Download
1.
Inisiasi 7.1
Pdf
2.
Diskusi 7
Pdf
3.
Tugas 3PdfLink 3

Display Tugas 3





Diskusi 7 Refleksi dalam tugas dan pengembangan profesi

Diskusi 7
Refleksi dalam tugas dan pengembangan profesi


Materi Inisiasi 7.1



Materi Inisiasi 7.2



Materi Inisiasi 7.3




Masalah :

Refleksi profesional kependidikan, pada hakikatnya mengacu kepada kemampuan dan kesanggupan guru merenungkan, memahami, dan menyadari pengalaman diri selama menggeluti profesi kependidikan. Bagaimana tanggapan anda mengenai pernyataan tersebut ?

BERBAGAI BENTUK REFLEKSI PROFESIONAL

Orang-orang bijak mengatakan bahwa "Pengalaman itu merupakan guru yang utama". Demikian juga peribahasa menyatakan bahwa "Keledai itu tidak pernah terantuk dua kali pada batu yang sama". Kedua ungkapan itu mengandung makna yang serupa, ialah bahwa orang yang sukses itu senantiasa mampu untuk belajar dari pengalaman - pengalaman yang telah pernah dijalaninya, kemudian ia berupaya untuk tidak mengulangi lagi perbuatan atau dipandang salah atau keliru atau kurang terpuji, menyimpang, bahkan mungkin dapat merugikan pihak-pihak berkepentingan. Kemampuan seseorang untuk sanggup dan mau merenungkan, memahami, dan menyadari pengalaman - pengalaman masa lalu dalam hidupnya itulah merupakan hakikat refleksi diri. Kemampuan seperti itu teramat penting bagi mereka yang mengemban tugas-tugas profesional terutama yang termasuk kategori helping profession atau profesi pelayanan bantuan, seperti dokter, psikiater, guru dan lain-lainnya (Blocher, 1987). 
Mengapa kemampuan melakukan refleksi profesional itu dipandang amat penting dalam kajian keprofesionalan pelayanan bantuan?
 Jawabannya yang paling mendasar dapat dikatakan bahwa tugas pekerjaan helping profession itu sangat erat dengan masalah kelangsungan hidup dan nasib masa depan klien atau customer. Contohnya, jika konselor keliru mendiagnosis masalah yang dialami kliennya atau siswa, ia akan memberikan penanganan yang salah, yang pada awalnya bertujuan membantu, akhirnya justru malah sebaliknya, merusak perkembangan peserta didik yang bersangkutan. Kekeliruan praktik (malapraktek) pelayanan bantuan profesional yang dilakukan oleh para pengemban tugasnya dapat berakibat fatal, baik bagi klien yang bersangkutan (bahkan dapat kehilangan nyawa) maupun bagi praktikan yang bersangkutan. Bagi profesi keguruan bahkan dampak itu mungkin lebih jauh lagi, ialah terhadap kinerja pembangunan kesejahteraan hidup umat manusia.
Mochtar Buchori (1994) menekankan betapa pentingnya kemampuan refleksi profesional itu dimiliki oleh pengemban tugas kependidikan, khususnya para guru.
Mengingat refleksi profesional itu pada dasarnya merupakan salah satu langkah kegiatan awal yang amat fundamental dari keseluruhan rangkaian pengembangan sumber daya pada diri manusia (SDM) umumnya dan pengembangan keprofesian khususnya. Jawaban  persoalan di atas itu tidak terlepas dari kiat-kiat yang berkaitan dengan kegiatan pengembangan sumber daya manusia tersebut.

Dari konsep pengembangan sumber daya manusia yang dikemukakan oleh Harbison dan Myers (1964 : 2 — 3) dapat dijabarkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini :
  1. Apakah saya telah menyelesaikan pendidikan prajabatan profesional yang disyaratkan untuk mengemban tugas jabatan kependidikan (guru dan atau tenaga kependidikan lainnya) yang telah dijalankan selama ini? Umpamanya, untuk menjadi guru SD pendidikan minimal sederajat D-2, untuk SLTP pendidikan minimal sederajat D-3, untuk SLTA pendidikan minimal sederajat S-l, dan untuk perguruan tinggi pendidikan minimal S-2. Jika menggunakan patokan akta mengajar maka SLTP minimal Akta-3, SLTA minimal Akta-4, dan untuk perguruan tinggi minimal Akta-5.
  2. Apakah saya telah melakukan kegiatan pendidikan dan latihan dalam jabatan (inservice) selama mengemban tugas jabatan profesional di bidang pendidikan ini'? Kalau pernah ikut, pertanyaannya, berapa kali dan berapa lama mengikutinya? Dalam hal bidang apa? Secara terprogram atau tidak? Di luar atau di dalam institusi sendiri? Diselenggarakannya oleh siapa (Dinas Pendidikan, asosiasi, atau profesi sebagai penyelenggaranya)?
  3. Apakah saya pernah terlibat atau berperan serta dalam berbagi kegiatan yang erat bertalian dengan pengembangan kemampuan keprofesian yang diemban selama ini, misalnya: seminar, penelitian, lokakarya, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya?
  4. Apakah kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Depdiknas, asosiasi profesi, atau lembaga lain, atau praktik sendiri/ mandiri ? 
  5. Apakah selama ini saya telah pernah terlibat menjadi anggota dari organisasi profesi kependidikan dan atau organisasi lain (sosial, politik, keagamaan, kebudayaan, dan sebagainya) yang secara langsung atau tidak langsung bertalian dengan pengembangan keprofesian serta tugas jabatan yang saya emban selama ini (sebagai ketua/pengurus anggota, penyerta/simpatisan dan sebagainya)?
  6. Apakah secara sadar atau tidak sadar saya selalu mematuhi aturan kode etik yang melekat dengan jabatan profesional yang saya emban selama ini? Apakah pernah saya melakukan penyimpangan tertentu karena alasan tertentu pula? Apakah pernah mendapat hukuman karenanya (penangguhan kenaikan pangkat/jabatan, pemindahan/mutasi, penurunan pangkat/jabatan, penurunan gaji, penundaan fasilitas atau kesempatan, dan sebagainya)? Apakah ada pembelaan atau perlindungan (dari organisasi dinas, dan sebagainya)?
  7. Apakah selama mengemban tugas jabatan profesional kependidikan atau keguruan ini saya selalu sadar akan hak-hak dan kewajiban saya, baik sebagai pribadi (individu) maupun sebagai anggota organisasi profesi kependidikan atau sebagai anggota organisasi kedinasan/institusi yang secara langsung atau tidak langsung bertalian dengan keprofesian yang saya emban Apakah pernah atau tidak pernah ada hambatan dalam penunaian hak-hak atau kewajiban itu? Jika tidak terjadi hambatan ataupun terjadi dan apakah telah dengan tepat diatasi atau dibiarkan berlalu saja (hak-hak imbalan jasa_ kesejahteraan, kesehatan dan sebagainya)? Apakah selama ini saya telah merasa puas dengan keterlibatan dalam tugas jabatan profesional kependidikan selama ini?Seandainya Anda dengan jujur mampu dan mau memberi jawaban - jawaban refleksif keprofesian atas pertanyaan di atas, diyakini Anda akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi pendidik yang profesional.
Dengan melalui refleksi profesional, setiap guru dapat mengenali dan memahami profil jati diri keprofesiannya. Dengan profil seperti itu guru akan menyadari di mana letak titik-titik kekuatan, kelemahan, peluang dan juga hambatan-hambatannya. Atas dasar itu, guru tinggal menentukan bagaimana seharusnya menyikapi hal itu secara tepat demi kepentingan kelangsungan masa depannya.
Sebagaimana telah dijelaskan, dengan refleksi profesional, setiap pendidik atau guru akan mengenal dan memahami jati diri profesionalnya.
Langkah berikutnya ialah bagaimana seyogianya yang bersangkutan menyikapi secara tepat. Yang seterusnya sudah barang tentu kemungkinan tindak lanjutnya akan sangat ditentukan oleh kecenderungan-kecenderungan sikap yang bersangkutan.

No. Materi Type File Link Download
1.
Inisiasi 7.1
PPT
2.
Inisiasi 7.2
Pdf
3.
Inisiasi 7.3You TubeLink 3
4.
Diskusi 7
Pdf
5.
Tugas 3
Pdf